Beransur Tapi Nyata, Listrik 24 Jam Terangi Kutim dan Sekitarnya

KRONIKKALTIM.COM – Masih terkenang di ingatan Dahlan (58), setiap senja menjelang, wajah Sul (9), anaknya yang masih duduk di bangku SD kala itu, sontak ikut muram. Seiring mentari turun ke paraduan, desanya yang masuk wilayah Kecamatan Rantau Pulung, Kutai Timur (Kutim) perlahan ikut gulita. Saat itulah kesedihan Sul memuncak karena tak bisa lagi membaca dan belajar. Sinar lampu minyak tempel yang ia pasang di dinding tak kuasa menerangi huruf di buku yang dipegang Sul.
Ya, saat itu listrik memang belum masuk ke desanya. Maka boleh dikata, gerak peradaban manusia seolah tergantung pada terang siang belaka. Itulah mengapa, saat ini ia mengatakan keberanaan listrik di Kutim berasur tapi nyata. “Mungkin bagi warga di perkotaan, listrik itu soal biasa. Tapi bagi kami yang tinggal di daerah terpencil ini, bisa menikmati listrik 24 jam adalah kemewahan,” kata Dahlan, Selasa (14/1/2019).
Ia menggambarkan, ketiadaan listrik saat itu bukan saja membuat anak kesayangannya tak bisa belajar, namun lebih jauh lagi membuat kehidupan sosial ekonomi di desanya seperti berhenti. “Nyaris tak ada kemajuan selama bertahun-tahun. Mau nonton televisi tidak bisa, mau pakai hp tidak bisa, mau pakai alat apapun yang menggunakan listrik tidak bisa. Bagaimana kita bisa maju?” ungkapnya.
Memang ada sebagian warga desanya yang mampu membeli generator pembangkit listrik skala kecil, tapi kapasitasnya terbatas dan hanya dinyalakan hingga pukul 20.00 karena selain harga bahan bakarnya juga mahal, juga dipengaruhi oleh kemampuan generator itu sendiri.
“Lepas jam itu, desa kami kembali tercekam sepi hingga matahari kembali muncul di pagi hari,” ujarnya.
Kini semua wilayah di daerah ini sudah dialiri listri 24 jam. Bukan hanya di Kecamatan Rantau Pulung dan sekitarnya saja, bahkan hampir seluruh pelosok daerah di Kutim. Itulah mengapa, warga di beberapa pedalaman Kutim lainnya juga sangat antusias menyambut pemasangan tiang jaringan dan kabel listrik PT PLN.
Hal ini, bisa terlaksana usai kesepakatan bersama Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dengan PT PLN Unit Induk Pelaksana Pelayanan Pelanggan (P3) Bontang terkait Pungutan dan Penyetoran Pajak Penerangan Jalan Umum (PJU) dan Pembayaran Rekening Listrik di Ruang Kerja Bupati pada November 2019 lalu.
Kesepakatan tersebut menjadi landasan hukum bagi PT PLN dalam melaksanakan pemasangan tiang jaringan listrik hingga ke pedalaman Kutim mengingat betapa luasnya wilayah Kutim yang harus dilayani PT PLN. Untuk memudahkan pemasangan tersebut beberapa warga bergotong royong membantu membersihan dan memangkas jalur tiang listrik yang akan dilewati seperti di Desa Long Lees, Kecamatan Busang.
Ditemui beberapa waktu lalu di ruang kerjanya, Bupati Ismunandar menyambut baik partisipasi warga bergotong – royong dalam membantu petugas PLN membersihkan lokasi pemasangan tiang dan jaringan kabel listrik PLN sehingga memudahkan penyaluran listrik sampai ke rumah – rumah warga. Ini membuktikan sinergitas antara pemerintah dan masyarakat untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dasar yang sangat dibutuhkan masyarakat.
“Allhamdulillah listrik sudah bisa masuk ke pelosok pedesaan, hal ini memotivasi camat lainnya di Kutim untuk mengajak warganya bergotong – royong dalam percepatan pembangunan yang ada di desanya,” ungkap Ismunandar.
Kegiatan gotong royong warga dalam membantu PT PLN di Desa Long Lees ini tentu memudahkan pemasangan tiang jaringan termasuk penarikan kabel listrik yang akan dipasang. Pelan tapi pasti warga sudah bisa menikmati listrik PLN.
Dengan terpasangnya tiang dan jaringan listrik, tentu sangat membantu warga yang biasanya menggunakan genset ketika malam hari tiba, dengan demikian pengeluaran untuk bahan bakar genset bisa diminimalisir, ungkap Arman salah seorang warga setempat.(hms4).